Friday, October 1, 2010

IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Salam Pengenalan Kisah Imam Ali Zainal Abidin a.s

Nama : Ali.
Gelaran : Ali Zainal Abidin.
Panggilan : Abu Muhammad.
Ayah : Husain bin Ali bin Abi Thalib
Ibu : Syah Zanan.
Kelahiran : Madinah, 5 Sya’ban 38 H.
Masa Imamah : 10 Tahun.
Usia : 57 Tahun
Wafat : 25 Muharram 95 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.

Pada masa pemerintahan khalifah kedua, Umar bin Khattab, kaum muslimin berhasil menaklukkan negeri Persia (Iran). Atas kemenangan ini, askar Islam membawa tawanan-tawanan perang ke Madinah Al-Munawwarah, termasuk di antara mereka Putri Yazdijard, Kisra Persia.

Tatkala kaum muslimin berkumpul di masjid, Khalifah Umar bermaksud menjual putri raja tersebut. Namun, Imam Ali a.s memberi isyarat agar ia tidak melakukan hal itu, mengingat bahwa putri-putri raja tidak boleh diperjualbelikan, sekalipun mereka itu kafir. Lalu beliau mengatakan, "Biarkan dia memilih seorang laki-laki untuk menjadi suaminya. Dan siapa saja yang dipilihnya, maka ia berhak menikah dengannya."

Putri raja itu menjatuhkan pilihannya kepada junjungan kita, Imam Husain bin Ali a.s sebagai pasangan hidupnya. Amirul Mukminin Ali a.s berwasiat kepada anaknya agar memperlakukannya dengan baik dan santun.
Beliau mengatakan, "Wahai Abu Abdillah (Husain), ketahuilah bahwa dia kelak akan melahirkan sebaik-baik penduduk dunia."

Ya, dari rahim wanita bangsawan inilah putra pertama Imam Husain yang bernama Ali itu lahir. Pernah ayahnya memanggilnya dengan nama Ibn Khairatain (anak dari dua kebaikan), karena dalam nadinya mengalir darah dua bangsa; Arab Quraisy Bani Hasyim dan Ajam Persia.

Farazdaq, seorang pujangga Arab tersohor pernah melukiskan Imam Ali Zainal Abidin a.s. Dia adalah lelaki yang tampan. Dari tubuhnya menebar bau harum segar. Pada dahinya terdapat bekas sujud. Kerananya, orang-orang mengenal beliau dengan gelar As-Sajjad (yang banyak bersujud).

Putra beliau, Imam Muhammad Al-Baqir a.s pernah bercerita, "Sesungguhnya apabila tiba musim dingin, ayahku, Ali bin Husain a.s menyedekahkan pakaiannya kepada fakir-miskin. Begitu pula jika datang musim panas, beliau melakukan hal yang sama."

Imam Ali Zainal Abidin a.s senantiasa mencuci dan memakai sebaik-baik pakaian ketika hendak melakukan salat, serta menaburkan wangi-wangian. Orang-orang seringkali menjumpainya memanjatkan doa, munajat, dan menangis. Salah seorang sahabat beliau bernama Thawus Al-Yamani menuturkan, “Aku melihat seorang laki-laki sedang melakukan solat di Masjidil Haram. Di samping Ka'bah ia berdoa sambil menangis. Kuhampiri ketika ia telah menyelesaikan solatnya. Ternyata dia adalah Ali bin Husain a.s. Aku menyapa, ‘Wahai putra Rasulullah, kulihat Anda menangis. Bukankah Anda putra Rasul Allah?!’ Beliau menjawab, ‘Meskipun aku adalah putra Rasul Allah, namun apakah dia akan menjamin keselamatanku dari azab Allah, sedangkan Allah telah berfirman, ‘Ketika itu tidak ada lagi ikatan keluarga antara mereka?

‘Sesungguhnya Allah menciptakan syurga bagi siapa saja yang berbakti kepada-Nya dan berbuat baik, sekalipun dia itu seorang hamba Habasyi (berkulit hitam), dan menciptakan neraka bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya dan berbuat buruk, sekalipun dia itu seorang tuan dari Quraisy.’”

Imam Ali Zainal Abidin a.s telah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah sebanyak 20 kali dengan berjalan kaki.

Kepada para sahabatnya beliau berwasiat supaya menunaikan amanat dan berkata, “Demi Dia yang telah mengutus Muhammad di atas kebenaran! Seandainya pembunuh Husain a.s mengamanatkan kepadaku sebilah pedang yang telah digunakannya untuk memenggal beliau, sungguh akan kuserahkan kembali kepadanya.”

Imam Ali Zainal Abidin juga mewasiatkan kepada mereka agar berusaha memenuhi keperluan orang lain. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai hamba yang bekerja guna memenuhi hajat manusia. Merekalah yang beriman pada Hari Kiamat. Maka, barang siapa yang membenamkan kegembiraan ke dalam hati seorang mukmin, kelak Allah SWT akan membahagiakan hatinya pada Hari Kiamat.”

Pada suatu hari, Imam Ali Zainal Abidin a.s pernah duduk bersama sebagian sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki dari keturunan ibusaudaranya. Lantas ia mencaci makinya dan melontarkan kata-kata kasar. Beliau tidak menjawab sampai lelaki itu menghentikan kata-katanya dan pergi.

Kemudian Imam berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Kamu dengar apa yang dikatakan lelaki tadi? Saya lebih suka kamu bersamaku hingga mendengarkan jawabanku padanya.” Lalu mereka berdiri bersama Imam dan mengira bahwa Imam akan membalas dengan perbuatan yang serupa.

Imam mengetuk pintu orang tersebut. Lelaki itu pun keluar dengan penuh hati-hati dan dalam keadaan bersedia. Sementara itu, Imam berkata dengan santun, “Wahai saudaraku, sungguh telah kau katakan sesuatu padaku. Seandainya benar apa yang kau katakan, aku memohon ampunan kepada Allah. Namun, jika semua itu tidak benar, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu."

Lelaki itu terpengaruh akan budi bahasa beliau. Seketika itu pula ia menyesali perbuatannya, dan Imam menerima permohonan maafnya.

Pada kesempatan lain, Imam Ali Zainal Abidin menjenguk Muhammad bin Usamah bin Zaid yang sedang jatuh sakit. Melihat Muhammad menangis, Imam bertanya, “Gerangan apa yang membuatmu menangis?”

Muhammad menjawab, “Aku dibebani hutang.”

“Berapa jumlah hutangmu?", tanya Imam.

"15.000 Dinar", jawab Muhammad.

Imam berkata, “Serahkan kepadaku." Lalu beliau melunasi hutang tersebut.

Di tengah malam yang sunyi, Imam Ali Zainal Abidin as keluar kota sambil memikul sejumlah wang dan makanan untuk dibagikan kepada seratus kepala keluarga fakir, sementara mereka tidak mengenali beliau.

Ketika Imam as meninggal syahid, mereka benar-benar merasakan kehilangan seorang lelaki. Barulah mereka sadar, ternyata orang yang selama ini membagi-bagikan wang dan makanan kepada mereka itu adalah Ali Zainal Abidin as.

Di Karbala, Imam Ali Zainal Abidin a.s ikut bersama ayahnya, Imam Husain a.s dalam perjalanannya dari Madinah ke Makkah dan dari Makkah ke Karbala, hingga terjadi tragedi pembunuhan yang memilukan itu di sana.

Ketika itu, beliau sedang sakit keras. Setelah menyaksikan ayahnya tinggal sendirian, Dia memaksakan dirinya bangkit dari tempat tidurnya untuk terjun ke dalam medan peperangan. Akan tetapi, Imam Husain berkata kepada adiknya Zainab, “Tahanlah dia agar keturunan keluarga Rasulullah saw tidak terputus.”

Sesungguhnya sakit yang menimpa Imam a.s pada hari-hari itu adalah hikmah Allah SWT, agar keturunan Rasulullah tetap bertrusan, dan kejahatan serta kebiadaban Yazid tersingkap.

Setelah Imam Husain a.s syahid dibunuh, tentara Ibnu Ziyad menyerang kemah-kemah dan hendak membunuh Imam Ali Zainal Abidin a.s yang ketika itu berumur 23 tahun. Akan tetapi, ibu saudarnyai, Zainab berdiri menghadang mereka dengan penuh keberanian dan berkata, “Jika kalian hendak membunuhnya, maka bunuhlah aku terlebih dahulu." Akhirnya, mereka membatalkan niat jahat itu, dan merantai tangan Imam serta membawanya ke Kufah bersama dengan tawanan lain.

Tatkala mereka berihenti rehat, Zainab dan Imam a.s serta para tawanan lainnya dengan penuh keberanian membukakan kekejaman Yazid, Ubaidillah Ibnu Ziyad, dan penghianatan warga Kufah yang hina.

Ketika rombongan tawanan itu tiba di Kufah, masyarakat berkerumun di sekitar mereka. Dalam rangka menunjukkan penentangan, Imam Ali Zainal Abidin as memilih diam sambil menperlihatkan keadaan dirinya yang dirantai, sedangkan darah mengalir dari sikunya.

Di tengah mereka beliau berpidato, “Wahai manusia! Barangsiapa mengenal aku, maka dia telah mengenal aku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku, maka ketahuilah aku adalah Ali bin Husain bin Abi Thalib.

“Aku adalah anak yang dipijak kehormatannya, dirampas haknya, dirompak hartanya, dan ditawan keluarganya. Aku adalah anak yang ayahnya disembelih di Sungai Furat. Aku adalah anak yang ayahnya dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah itu sebagai kebanggaan.

“Wahai manusia! Bersumpahlah demi Allah. Masihkah anda ingat bagaimana anda telah melayangkan surat dan undangan kepada ayahku lantas anda sendiri mengkhianatinya. Anda telah berjanji untuk tidak mengapa-apakannya tetapi anda membunuhnya.

“Sungguh, celakalah anda karena perbuatan anda sendiri! Bagaimana anda akan berhadapan dengan datukku Rasulullah kelak tatkala beliau menanyakan kepada anda, 'Kamu bunuh keluargaku dan hancurkan kehormatanku. Sungguh kamu tidak termasuk umatku.’”

Ubaidillah Ibnu Ziyad memerintahkan agar para tawanan diseret menghadapnya. Ia ingin sekali melihat garis-garis kehinaan di raut wajah mereka. Tiba-tiba ia terperanjat. Pandangannya tertusuk tatapan-tatapan mereka yang semua malah menghinakan dirinya, padahal mereka dikelilingi oleh para bentara istana.

Ibnu Ziyad menoleh ke Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, “Siapa namamu?”
Imam menjawab, "Aku Ali bin Husain."

Ibnu Ziyad berkata lagi dengan bengis, "Bukankah Allah telah membinasakan Ali?”

Imam menjawab dengan tegas, “Aku pernah punya datuk bernama Ali yang telah dibunuh oleh segerombol manusia.”

Ibnu Ziyad dengan marah menyangkal, "Allahlah yang telah membunuhnya!"

Imam tanpa rasa gentar membalas, "Allah mematikan jiwa ketika tiba ajalnya, karena setiap jiwa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah."

Ibnu Ziyad semakin berang, lalu memerintahkan untuk membunuh Imam as. Pada saat itulah ibu saudaranya, Zainab bangkit dan berkata lantang, "Hai Ibnu Ziyad! Apakah kau belum puas menumpahkan darah kami? Apakah kau tidak membiarkan salah seorang hidup dari kami? Jika kau hendak membunuhnya, maka biarkanlah aku menyertainya."

Ibnu Ziyad semakin gentar tatkala Imam Ali Zaibal Abidin mengatakan, "Tidakkah kau tahu bahwa perang adalah kebiasaan kami, dan mati syahid adalah kemuliaan kami dari Allah".
Akhirnya, Ibnu Ziyad membatalkan niatnya dan mengirimkan para tawanan itu ke Syam [Syiria]

Rombongan tawanan itu tiba di negeri Syam diiringi dengan tangisan pilu menyayat hati, sementara Imam Ali Zaibal Abidin as masih dirantai besi.

Yazid bin Mu‘awiyah memerintahkan untuk menghiasai kota Damaskus sebagai tanda syukur dan puas atas terbunuhnya Imam Husain as. Dia telah menipu warga kota dengan menyebarkan berita bohong dan cerita buruk tentang anak keturunan Ali bin Abi Thalib as.
Sesampainya rombongan tawanan di Damaskus, seorang lelaki tua mendatangi Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah membinasakanmu dan memenangkan pemimpin kami!"

Imam a.s sadar bahwa sesungguhnya lelaki tua itu tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Kepadanya beliau bertanya lembut, "Wahai bapak! Apakah engkau membaca Al-Qur'an?"
Lelaki tua itu menjawab, "ya."

Imam bertanya lagi, "Apakah engkau membaca firman Allah, 'Katakanlah [Muhammad], ‘Aku tidak meminta balasan dari kamu kecuali kecintaan kamu kepada keluargaku.’ Dan firman Allah, ‘Penuhilah hak keluarga (Rasul).’ Serta firman Allah, ‘Dan ketahuilah, sesungguhnya pada rampasan perang kamu terdapat seperlima hak Allah SWT, rasul-Nya, dan keluarganya?’”

"Ya", jawab lelaki tua itu, "Saya telah membaca ayat-ayat itu."
Lalu Imam as berkata, "Demi Allah, kamilah keluarga Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut."
Imam melanjutkan pertanyaannya, "Apakah engkau membaca firman Allah, ‘Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kekotoran (rijz) dari kalian hai Ahlulbait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.’?”

Lelaki tua itu menjawab, "ya."

Imam berkata, "Kamilah Ahlulbait, wahai bapak."

Dengan penuh keheranan, lelaki tua bertanya, “Demi Allah, benarkah kamu Ahlulbait?”
Imam menjawab, "Ya, demi kebenaran datuk kami, Rasulullah. Kamilah yang dimaksudkan dalam ayat itu."

Lelaki tua itu akhirnya menerima perkataan Imam. Ia berkata, "Aku berlepas diri kepada Allah dari orang-orang yang telah memerangi kamu."
Ketika berita itu sampai ke telinga Yazid, segera ia memerintahkan bentaranya untuk memenggal leher lelaki tua itu.

Yazid memerintahkan agar para tawanan dihadapkan kepadanya dalam keadaan terikat. Sungguh keadaan mereka amat memilukan.

Imam Ali Zaibal Abidin a.s berkata, "Apa yang akan kau katakan, hai Yazîd, kepada Rasulullah sementara keturunannya dalam keadaan seperti ini?!"

Mendengar itu, orang yang hadir dalam ruangan menangis. Mereka tak kuasa lagi menahan air mata.

Atas perintah Yazid, salah seorang deklamator naik mimbar dan mulai mencaci-maki dua cucunda Nabi; Hasan dan Husain, dan sebaliknya memuji-muji Mu‘awiyah dan Yazid. Imam as memandangnya dan berkata dengan nada keras, "Celakalah kamu, hai pembicara. Kau telah mencari kesenangan makhluk dengan kemurkaan Allah. Maka, kau telah memilih tempatmu di neraka."

Kemudian Imam a.s berpaling ke arah Yazid dan berkata, "Apakah engkau mengizinkan aku naik ke mimbar ini? Aku akan mengutarakan sebuah ucapan yang mengandung keridhaan Allah dan menebarkan pahala kepada hadirin di sini."

Yazid menolaknya dan berkata, "Jikalau dia naik mimbar, dia tidak akan turun kecuali setelah membukakan kekejamanku serta kejahatan keluarga Abu Sufyân." Setelah didesak oleh hadirin, akhirnya Yazid mengizinkan Imam untuk berpidato.

Lalu Imam Ali Zainal Abidin as naik mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, beliau berkata, "Wahai manusia, kami telah diberi enam perkara dan diunggulkan dengan tujuh perkara; kami diberi ilmu pengetahuan, kesantunan, kedermawanan, kefasihan bicara, keberanian, dan kecintaan di hati-hati kaum mukmin.

"Kami telah diunggulkan kerana di antara kami terdapat Nabi yang termulia, Ali As-Shiddiq yang tepercaya, dan Ja‘far At-Thayyar yang terbang. Pada kamilah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya. Pada kamilah penghulu segenap kaum wanita, dan pada kami pulalah dua cucu mulia umat ini.

"Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa tidak mengenalku, akan kuperkenalkan asal-usul keturunanku."

"Aku adalah anak dari Makkah dan Mina (Nabi Ibrahim as). Aku adalah anak air sumur Zamzam dan Shafa (Nabi Ismail as). Aku adalah anak dari orang yang telah diisra’-mikrajkan dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Aku adalah anak dari orang yang ditemani Malaikat Jibril ke Sidratul Muntaha (Nabi Muhammad saw). Aku adalah anak dari orang yang dekat dan didekatkan sehingga berada di antara dua sisi atau lebih dekat lagi. Aku adalah anak Muhammad Al-Musthafa. Aku adalah anak Al-Murtadha."

Mulailah Imam Ali Zainal Abidin as menyebutkan silsilah keturunannya yang suci, sampai menjelaskan tragedi pembantaian di Karbala secara rinci. Para hadirin terkejut menyimak kenyataan yang sebenarnya terjadi sehingga ruangan itu bergemuruh dengan isak tangis mereka.

Yazid khawatir akan terjadi perubahan yang merugikan dirinya. Segera dia memberi isyarat kepada muazin untuk mengumandangkan azan guna memotong pembicaraan Imam as.
Muazin mengumandangkan, "Asyhadu alla ilaha illallah."
Imam lalu berkata dengan khusyuk, "Aku bersaksi dengan darah dan dagingku."

Ketika muazin mengumandangkan, "Asyhadu anna Muhammadan Rrasulullah."
Imam a.s menoleh ke Yazid dan berkata kepadanya, "Muhammad ini, apakah datukku atau datukmu? Jika kau katakan bahwa dia adalah datukmu, maka engkau telah berdusta. Tetapi, jika kau mengakuinya sebagai datukku, lalu mengapa engkau membunuh keturunannya?"
Ternyata, dialog antara Imam Ali Zainal Abidin as dan Yazid itu menciptakan perubahan besar di tengah masyarakat. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang meninggalkan masjid sebagai cara penentangan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Yazid.

Lagi-lagi Yazid kuatir keadaan kota Syam akan bergejolak dan menentangnya. Secepat mungkin ia memerintahkan agar para tawanan dikembalikan ke Madinah.
Kaum muslimin menyesal atas sikap acuh mereka terhadap Imam Husain as ketika mereka melihat kezaliman dan kejahatan Yazid terus berlangsung.

Tak lama kemudian, Yazid mengirimkan pasukan untuk menyerang Madinah Al-Munawwarah. Selama tiga hari dia membolehkan setiap pengikutnya di sana melakukan pembunuhan, penjarahan, dan perampasan kehormatan wanita.

Belum puas memperlakukan Madinah dan warganya, Yazid memerintahkan pasukan untuk mengepung kota Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan lemparan batu dan membakar bagian dalamnya.

Sementara pasukan menghujani Ka’bah dengan batu, Allah membalas perbuatan biadab Yazid hingga mati secara menyedihkan. Kematian Yazid membuat kedudukan khilafah beralih kepada anaknya yang bernama Mu‘awiyah. Namun, Muawiyah sendiri menolak kedudukan itu, sebab ia menyadari betapa kezaliman yang telah dilakukan ayah dan datuknya. Ia tahu benar bahwa mereka berdua telah merampas hak kekhilafahan dari pemiliknya yang sah.

Dalam keadaan demikian, Marwan bin Hakam mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah, lalu warga Syam merestuinya. Sementara di Hijaz, Abdullah bin Zubair dilantik sebagai khalifah. Di sana ia senantiasa menjaga Ka’bah.

Pada tahun 73 H, anak Marwan yang bernama Abdul Malik bersama pasukan besarnya bergerak menuju Makkah dan mengepungnya. Seperti yang sudah dilakukan oleh Yazid, ia pun menghancurkan Ka’bah dengan lemparan batu dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair.
Dalam usaha mengabdikan pemerintahannya, tak segan-segan Abdul Malik menggunakan ancaman dan tekanan terhadap siapa saja yang menentangnya.

Ia mengangkat seorang lelaki penumpah darah sebagai gubernurnya di Basrah dan Kufah, yaitu Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Gubernur ini banyak membuat ladang penjagalan untuk nyawa-nyawa yang tak berdosa, serta mengisi penjara-penjara dengan kaum laki-laki hatta kaum perempuan.

Secara khusus, Abdul Malik melakukan pengawasan ketat terhadap Imam Ali Zainal Abidin a.s. Mata-mata selalu mengintai setiap gerak-gerik beliau. Sampai akhirnya, dia memerintahkan untuk menangkap Imam a.s, dan mengirimkan beliau ke pusat kekuasaannya di Syam. Selang beberapa waktu, Abdul Malik membebaskan beliau.

Abdul Malik meninggal setelah menyerahkan tahta kekhalifahannya kepada Hisyam. Pada suatu hari, Hisyam menunaikan ibadah haji dan tawaf di sekitar Ka’bah. Di sana dia bermaksud untuk mencium Hajar Aswad, namun tidak berhasil kerana banyaknya para jemaah haji yang bersesakan.

Kemudian, Hisyam duduk beristirahat sambil menunggu kesempatan, sementara warga Syam berkerumun di sekitarnya. Tiba-tiba datanglah Imam Ali Zainal Abidin a.s menebarkan bau harum semerbak, lalu tawaf di sekeliling Ka'bah. Tatkala Imam a.s sampai di hadapan Hajar Aswad, orang-orang berhenti dengan penuh hormat dan membukakan jalan untuk beliau, sehingga beliau dapat dengan mudah mencium batu hitam itu. Secepat itu, orang-orang kembali melanjutkan tawaf mereka. Ketika menyaksikan peristiwa itu, warga Syam yang tidak mengenal Imam a.s bertanya-tanya kepada Hisyam tentang siapa gerangan laki-laki tersebut. Dengan berlagak bodoh bercampur rasa kesal, ia menjawab, "Aku tidak mengenalnya."

Farazdaq, penyair yang berada di tengah mereka, tak lagi kuasa menahan rasa hormatnya. Spontan ia melantunkan bait-bait syair yang begitu indah, sebagai jawaban atas ketidaktahuan orang-orang Syam itu.

"Dialah lelaki yang dikenal Makkah tapak kakinya.
Dikenal Ka'bah, di dalam dan di luar tanah Haram.
Dialah putra sebaik-baiknya hamba di antara semua hamba Allah.
Dialah manusia yang bertakwa, tersuci, dan terkemuka.
Dialah putra Fatimah jika kau tak lagi kenal.
Datuknya adalah penutup segenap nabi Allah".

Imam Ali Zainal Abidin a.s mengirimkan hadiah kepada Farazdaq sebagai penghargaan atas sikap yang ditunjukkannya dalam bait-bait itu. Ia pun menerima hadiah tersebut dengan berharap mendapatkan berkah darinya.

Sekilas, Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah adalah sebuah buku kecil kumpulan doa-doa. Tetapi, justru buku kecil itu telah menjadi sumber pengetahuan dan mengajarkan akhlak luhur dan budi pekerti kepada umat manusia. Di samping itu, buku itu mengandung pembahasan Falsafah, Sains, dan persoalan-persoalan Matematik, bahkan juga masalah-masalah politik.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari doa-doa beliau yang tercatat di dalam As-Shahifah As-Sajjadiyyah:

• "Ilahi, aku sungguh berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kekecutan, kekikiran, kekhilafan, kekerasan hati, dan keterhinaan."
• "Maha Suci Engkau yang mendengar setiap nafas ikan di dasar laut! Maha Suci Engkau yang mengetahui peredaran purnama dan mentari! Maha Suci Engkau yang mengetahui pergantian kegelapan (malam) dan cahaya (siang)! Maha Suci Engkau ... sungguh aneh orang yang mengenal-Mu, bagaimana mungkin mereka tidak takut kepada-Mu."

Selain terdapat doa-doa di dalam Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah, Imam Ali Zainal Abidin a.s juga mempunyai doa khusus setiap hari, doa harian dalam seminggu, dan lima belas munajat, dengan irama kata dan kalimat yang indah nan syahdu. Semua itu menunjukkan budi pekerti yang agung dan ketundukkan jiwa Imam as di hadapan Allah SWT.

Imam Ali Zainal Abidin a.s mempunyai sebuah risalah yang dikenal dengan nama Risalah Huquq (Risalah Hak dan Tanggung Jawab). Risalah itu mencakup lima puluh perkara berkenaan dengan tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, dirinya, tetangga, dan teman-teman.

Tentang hak-hak seorang guru beliau mengatakan, "Di antara hak guru yang harus kau penuhi adalah memuliakannya, menghormati kelasnya, dan menyemak pelajarannya dengan seksama .... Janganlah engkau mengeraskan suaramu di hadapannya. Sembunyikanlah segala kekurangannya dan perlihatkanlah segenap kelebihannya."

Berkenaan dengan hak-hak seorang ibu, Imam as mengingatkan, "Adapun hak ibumu, ketahuilah bahwa dia telah mengandungmu, memberimu makan dari buah hatinya (air susunya), dia lebih senang melihatmu kenyang sementara dia menahan lapar, dia memberimu pakaian sementara dia tiada, dia memberi minum sementara dia dahaga, dan menidurkanmu nyenyak di haribaannya."

Tentang hak-hak tetangga, Imam a.s menuturkan, "Di antara hak-hak tetanggamu adalah engkau menjaganya ketika ia tidak terlihat, memuliakannya ketika ia berada di sisimu, ... janganlah engkau merasa iri terhadapnya, mengingatkannya ketika tergelincir, dan memaafkan kesalahannya."

Tentang hak-hak kafir dzimmi (orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin dan hidup di negara Islam), Imam Ali Zainal Abidin a.s menjelaskan, “Maka, hukum bagi kaum kafir ialah menerima dari mereka apa yang direstui Allah, dan cukuplah bagi mereka jaminan dan perjanjian yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, ‘Barangsiapa yang menyalahi janji, aku akan menjadi musuhnya, maka takutlah kepada Allah dan jagalah mereka.’”

Pada 25 Muharram 95 H, Imam Ali Zainal Abidin a.s meninggal dunia sebagai syahid, tak lama setelah Hisyam bin Abdul Malik membubuhkan racun ke dalam makanan beliau. Imam a.s wafat pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Baqi‘, di samping makam bapa saudaranya, Imam Hasan bin Ali a.s.

Mutiara Hadis Imam Ali Zainal Abidin a.s

• “Wahai anakku! Waspadalah terhadap lima macam manusia, dan janganlah kau bersahabat dan seperjalanan dengan mereka:

1. “Jauhilah bersahabat dengan pendusta, karena dia seperti fatamorgana; mendekatkan sesuatu yang jauh darimu dan menjauhkan sesuatu yang dekat denganmu.
2. “Jauhilah bersahabat dengan orang fasik, karena dia akan menjualmu dengan sesuap nasi atau selainnya.
3. “Jauhilah bersahabat dengan orang kikir/bakhil, kerana dia akan membiarkanmu ketika engkau memerlukannya.
4. “Jauhilah bersahabat dengan orang dungu (tolol), karena dia akan mencelakakanmu padahal semestinya ia ingin menolongmu.
5. “Dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka memutuskan silaturahmi, karena aku mendapatinya terlaknat di dalam kitab Allah.”

Dalam pesannya kepada putranya, Imam Muhammad Al-Baqir a.s, Imam Ali Zainal Abidin a.s mengatakan, “Berbuat baiklah kepada setiap orang yang menuntut kebaikan. Jika ia adalah orang yang berhak menerima kebaikanmu, maka engkau telah melakukan hal yang semestinya. Tapi jika ia tidak berhak menerima kebaikanmu itu, maka engkau sungguh telah berhak mendapatkan kebaikan. Jika seseorang mencacimu dari sebelah kanan dan beralih ke sebelah kiri, lalu meminta maafmu, maka terimalah permintaannya.”

Imam Ali Zainal Abidin a.s adalah seorang yang sangat thawadhu’, suka merendah diri dan sangat penyabar. Beliau kuat beribadat dan suka membuat kebajikan.

Sumber: Sirah Ahlulbait


Saturday, September 18, 2010

BROCCOLI

What's New and Beneficial About Broccoli
• Broccoli can provide you with some special cholesterol-lowering benefits if you will cook it by steaming. The fiber-related components in broccoli do a better job of binding together with bile acids in your digestive tract when they've been steamed. When this binding process takes place, it's easier for bile acids to be excreted, and the result is a lowering of your cholesterol levels. Raw broccoli still has cholesterol-lowering ability- just not as much.
• Broccoli has a strong, positive impact on our body's detoxification system, and researchers have recently identified one of the key reasons for this detox benefit. Glucoraphanin, gluconasturtiian, and glucobrassicin are 3 glucosinolate phytonutrients found in a special combination in broccoli. This dynamic trio is able to support all steps in body's detox process, including activation, neutralization, and elimination of unwanted contaminants. Isothiocyanates (ITCs) are the detox-regulating molecules made from broccoli's glucosinolates, and they help control the detox process at a genetic level.
• Broccoli may help us solve our vitamin D deficiency epidemic. When large supplemental doses of vitamin D are needed to offset deficiency, ample supplies of vitamin K and vitamin A help keep our vitamin D metabolism in balance. Broccoli has an unusually strong combination of both vitamin A (in the form of beta-carotene) and vitamin K. For people faced with the need to rebuild vitamin D stores through vitamin D supplements, broccoli may be an ideal food to include in the diet.
• Broccoli is a particularly rich source of a flavonoid called kaempferol. Recent research has shown the ability of kaempferol to lessen the impact of allergy-related substances on our body. This kaempferol connection helps to explain the unique anti-inflammatory benefits of broccoli, and it should also open the door to future research on the benefits of broccoli for a hypoallergenic diet.
Health Benefits
It's no coincidence that more than 300 research studies on broccoli have converged in one unique area of health science-the development of cancer-and its relationship to three metabolic problems in the body. Those three problems are (1) chronic inflammation (2) oxidative stress, and (3) inadequate detoxification. While these types of problems have yet to become part of the public health spotlight, they are essential to understanding broccoli's unique health benefits. Over the past 5 years, research has made it clear that our risk of cancer in several different organ systems is related to the combination of these three problems.
The Cancer/Inflammation/Oxidative Stress/Detox Connection
Exposure to potentially toxic substances in our food and water, or in the air we breathe both indoors and outdoors, exposure to allergy-triggering substances, poor general health, dietary deficiencies, use of prescription and over-the-counter medications, and other lifestyle practices can result in a level of danger to our bodies that prompts our inflammatory system to work in overdrive on a 24/7 basis. Researchers often refer to this phenomenon as "chronic inflammation." Often contributing to this level of danger is a weakened detox ability in our body. If our liver, skin, and other organ systems cannot keep up with and detoxify the number of potential toxins that we encounter, too many potential toxins remain at large throughout our body. Once again, the result is a level of risk that prompts chronic inflammation.
On a more temporary, short-term basis, inflammation is part of good health. Whether physical or chemical in nature, whenever our body detects a wound, it typically responds by trying to heal with an inflammatory response. That process is healthy, so long as it is not constant and uninterrupted. But unlike the helpful inflammation that takes place we get a simple cut or bruise, chronic inflammation-when it becomes a standard feature of our metabolism-is incompatible with good health. When our bodies are overwhelmed day in and day out with chronic inflammation, many other metabolic balances can get thrown out of kilter, including the balance in our oxygen metabolism. An unwanted imbalance starts to occur in which too many overly reactive, oxygen-containing molecules are formed. This condition is called oxidative stress. The increased presence of these overly reactive molecules can do damage to many parts of our cells, including their genetic material (and especially their deoxyribonucleic acid, or DNA). Over time, the constant and cumulative DNA damage inside our cells can pose a major risk factor for conversion of healthy cells into cancerous ones.
It's equally possible for this sequence of events to start not with chronic, excessive inflammation, but with chronic oxidative stress. Over time, when overly reactive oxygen-containing molecules cause damage to DNA and other cell structures, our body reads this situation as being highly dangerous and it initiates an inflammatory response to try and reduce the threat posed by the oxidative stress. In either case, we end up with a combination of inadequate detoxification of toxic substances, chronic inflammation and oxidative stress that puts us at greater risk for developing cancer.
In a way that might be unique among foods, the nutrients found in broccoli are able to change this set of connections between inflammation, oxidative stress, detox and cancer. In fact, it would be fair to describe broccoli as containing anti-inflammatory nutrients, antioxidant nutrients, detox-support nutrients, and anti-cancer nutrients as well!
Broccoli's Anti-Inflammatory Benefits
When threatened with dangerous levels of potential toxins, or dangerous numbers of overly-reactive, oxygen-containing molecules, signals are sent within our body to our inflammatory system, directing it to "kick in" and help protect our body from potential damage. One key signaling device is a molecule called Nf-kappaB. When faced with the type of dangers described above, the NF-kappaB signaling system is used to "rev up" our inflammatory response and increase production of inflammatory components (for example, IL-6, IL-1beta, TNF-alpha, iNOS and COX-2). This process works beautifully in temporary, short-term circumstances when healing from injury is required. When it continues indefinitely at a constant pace, however, it can put us at risk for serious health problems, including the development of cancer.
Research studies have made it clear that the NF-kappaB signaling system that is used to "rev up" our inflammatory response can be significantly suppressed by isothiocyanates (ITCs). ITCs-the compounds made from glucosinolates found in broccoli and other cruciferous vegetables-actually help to shut down the genetic machinery used to produce NF-kappaB and other components of the inflammatory system. These anti-inflammatory benefits of ITCs have been demonstrated in the laboratory, and with consumption of the ITCs themselves. While they have yet to be demonstrated on consumption of broccoli in an everyday diet, we fully expect future research to show anti-inflammatory benefits from the routine consumption of broccoli (and its glucosinolates), not just from consumption of ITCs.
Lack of omega-3 fat is dietary problem that can cause over-activation of the inflammatory system. The reason is simple: many key anti-inflammatory messaging molecules (like PGH3, TXA3, PGI3, and LTE5) are made from omega-3 fats. We are not accustomed to thinking about non-fatty vegetables as sources of omega-3 fats, but we need to change our thinking in this area. While it is true that there are limited amounts of omega-3s in vegetables like broccoli, it is equally true that their levels of omega-3s can still play an important role in balancing our inflammatory system activity. In 100 calories' worth of broccoli (about 2 cups) there are approximately 450 milligrams of omega-3s (in the form of alpha-linolenic acid, or ALA). That amount of ALA falls into the same general ballpark as the amount provided by one soft gel capsule of flax oil. While we would not want to depend on broccoli as our sole source of dietary omega-3s, we still get important anti-inflammatory benefits from the omega-3s it provides.
As mentioned earlier in this section, chronic inflammation can sometimes get triggered by overexposure to allergy-related substances. In this context, broccoli has yet another anti-inflammatory trick up its sleeve, because it is a rich source of one particular phytonutrient (a flavonol) called kaempferol. Especially inside of our digestive tract, kaempferol has the ability to lessen the impact of allergy-related substances (by lowering the immune system's production of IgE-antibodies). By lessening the impact of allergy-related substances, the kaempferol in broccoli can help lower our risk of chronic inflammation.
Broccoli's Antioxidant Benefits
Amongst all of the commonly consumed cruciferous vegetables, broccoli stands out as the most concentrated source of a premiere antioxidant nutrient-vitamin C. This central antioxidant vitamin can provide longer-term support of oxygen metabolism in the body if it is accompanied by flavonoids that allow it to recycle. Broccoli provides many such flavonoids in significant amounts, including the flavonoids kaempferol and quercitin. Also concentrated in broccoli are the carotenoids lutein, zeaxanthin, and beta-carotene. All three of these carotenoids function as key antioxidants. In the case of lutein and beta-carotene, broccoli has been shown not only to provide significant amounts of these antioxidants but to significantly increase their blood levels when consumed in the amount of three cups. Other antioxidants provided by broccoli in beneficial amounts include vitamin E and the minerals manganese and zinc.
Considered as a group, the vitamins, minerals, flavonoids, and carotenoids contained in broccoli work to lower risk of oxidative stress in the body. The ability of these nutrients to support oxygen metabolism and avoid excess formation of overly reactive, oxygen-containing molecules makes them equally helpful in lowering risk of chronic inflammation and risk of cancer. If cancer development is compared to a 3-legged stool, the antioxidant benefits of broccoli can be viewed as weakening one leg of the stool, namely the leg called "oxidative stress." We've already seen how the glucosinolates and omega-3 fats in broccoli can be viewed as helping to weaken a second leg of the stool (chronic inflammation). In the next section, we'll look at a third leg of the stool (inadequate detoxification) and see how the nutrients found in broccoli can serve to weaken this leg as well.
Broccoli Can Enhance Detoxification
Most toxins that pose a risk to our cells must be detoxified in our body by a 2-step process. What's remarkable about broccoli is its ability to alter activity in both of these two detox steps. Isothiocyanates (ITCs) made from the glucosinolates in broccoli are well-documented modifiers of the first step in detoxification (called Phase I). In fact, some ITCs like sulforaphane can actually help shut down the genetic machinery that produces certain Phase I enzymes. ITCs are equally capable of altering the activity of enzymes involved in the second step of detoxification (called Phase II). From research in the field of genetics, we know that ITCs can help bridge gaps in Phase II activity when it is insufficient. Taken in combination, the impact of ITCs on Phase I and II detox events is unique-and equally unique is the presence of glucosinolate compounds in broccoli that can be used to make ITCs. Glucosinolates like glucoraphanin, gluconasturtiian, and glucobrassicin are simply not found in other foods in the same combination and concentration that is offered by broccoli. By helping to promote as well as regulate detox activity in our cells, the ITCs made from broccoli can help prevent insufficient detoxification of dangerous substances that threaten our cells.
Broccoli and Cancer Prevention
The unique combination of antioxidant, anti-inflammatory, and pro-detoxification components in broccoli make it a unique food in terms of cancer prevention. Connections between cancer development and oxidative stress, chronic inflammation, and inadequate detoxification are so well-documented in the research that any food improving all three of these metabolic problems would be highly likely to lower our risk of cancer. In the case of broccoli, the research is strongest in showing decreased risk of prostate cancer, colon cancer, breast cancer, bladder cancer, and ovarian cancer. We expect that risk of other cancer types will also eventually be shown to undergo reduction from regular consumption of broccoli.
How Much Broccoli Is Needed for Cancer Prevention?
Recent studies have also provided us with a much better idea about the amount of broccoli that we need to lower our cancer risk. At the lower end of the spectrum, it looks like an average of 1/2 cup of broccoli per day-only 22 calories' worth of broccoli! -is enough to provide some measurable benefits. Few people have broccoli on a daily basis. But a 2-cup serving twice a week would still meet this minimum average amount. It's important to remember how little this amount actually in within the context of one week's food. A person eating 2,000 calories per day would be consuming 14,000 calories per week. A 2-cup serving of broccoli twice a week would provide about 178 calories-only 1% of the total weekly calories! At the higher end of the spectrum, studies show that more broccoli might be needed to accomplish other cancer-preventing tasks. For example, one study showed significantly higher urinary excretion of potential carcinogens from well-done, grilled meats given daily consumption of broccoli in the range of 9 ounces (250 grams) per day. That gram amount corresponds to approximately 1.6 cups of broccoli on a daily basis. We've also seen a study showing that "generous" amounts of broccoli can help optimize levels of antioxidants in the blood, especially beta-carotene and lutein. (Optimal antioxidant levels can help lower the risk of oxidative stress in healthy cells, which also helps lower their risk of becoming cancerous.) In this study, the term "generous" was used to describe consumption of broccoli in the amount of 3 cups daily. Once again, that amount would not be ridiculously high in terms of calories-3 cups would provide about 132 calories, or 6-7% of a 2,000-calorie diet. But it might be a greater amount that many people would want to consume on a regular basis.
For us, the bottom line here is not to treat broccoli like garnish. In recipes like our Asian-Flavored Broccoli with Tofu or 5-Minute Broccoli with Feta Cheese and Kalamata Olives recipes, we use 1 pound of broccoli to provide two servings. That's approximately 1.5 cups of broccoli per serving. There is no reason to shy away from 2-3 cup servings of broccoli when enjoying this cruciferous vegetable, especially if you want to optimize its cancer-preventing benefits. But make sure you're not simply "decorating" your plate with single broccoli stalk and floret.
Broccoli and Digestive Support
The digestive support provided by broccoli falls into two basic categories: fiber support, and ITC (isothiocyanate) support. At approximately 1 gram of dietary fiber for every 10 calories, you don't have to eat much broccoli to get a large amount of your daily requirement! 100 calories-only 5% of a 2,000-calorie diet-will give you about 10 grams of fiber, or 40% of the Daily Value (DV). And, 250 calories of broccoli (about 12% of a 2,000-calorie diet) will give you the full DV! Few components of food support our digestive system as well as fiber. The speed that food travels through us, the consistency of food as it moves through our intestine, and bacterial populations in our intestine are all supported as well as regulated by dietary fiber.
Alongside of broccoli's dietary fibers are its glucosinolates. These phytonutrients are converted by our bodies into isothiocyanates (ITCs). ITCs-and particularly sulforaphane-help protect the health of our stomach lining by helping prevent bacterial overgrowth of Helicobacter pylori or too much clinging by this bacterium to our stomach wall. Broccoli sprouts appear to have especially strong stomach support properties in this regard.
Broccoli and Cardiovascular Support
Although research in this area is still in the early stages, anti-inflammatory substances found in cruciferous vegetables are becoming the topic of increasing interest with respect to heart disease. One particular focus here involves the anti-inflammatory properties of sulforaphane, one of the isothiocyanates (ITCs) derived from the glucoraphanin in broccoli. In some individuals susceptible to high blood sugar, sulforaphane may be able to prevent (or even reverse) some of the damage to blood vessel linings that can be cause by chronic blood sugar problems. Decreased risk of heart attacks and strokes may also eventually be linked in a statistically significant way to intake of broccoli and its glucoraphanin.
A second area you can count on broccoli for cardiovascular support involves its cholesterol-lowering ability. Our liver uses cholesterol as a basic building block to product bile acids. Bile acids are specialized molecules that aid in the digestion and absorption of fat through a process called emulsification. These molecules are typically stored in fluid form in our gall bladder, and when we eat a fat-containing meal, they get released into the intestine where they help ready the fat for interaction with enzymes and eventual absorption up into the body. When we eat broccoli, fiber-related nutrients in this cruciferous vegetable bind together with some of the bile acids in the intestine in such a way that they simply stay inside the intestine and pass out of our body in a bowel movement, rather than getting absorbed along with the fat they have emulsified. When this happens, our liver needs to replace the lost bile acids by drawing upon our existing supply of cholesterol, and as a result, our cholesterol level drops down. Broccoli provides us with this cholesterol-lowering benefit whether it is raw or cooked. However, a recent study has shown that the cholesterol-lowering ability of raw broccoli improves significantly when it is steamed. In fact, when the cholesterol-lowering ability of steamed broccoli was compared with the cholesterol-lowering ability of the prescription drug cholestyramine (a medication that is taken for the purpose of lowering cholesterol), broccoli bound 33% as many bile acids (based on a standard of comparison involving total dietary fiber).
The B-complex vitamins in broccoli can also make a major contribution to our cardiovascular health. Especially with respect to excessive formation of homocysteine-an event which raises our risk of atherosclerosis, stroke, and heart attack-B-complex vitamin deficiency intake can pose a major risk. Three B vitamins especially important for lowering our risk of hyperhomocysteinemia (excessive formation of homocysteine) are vitamin B6, vitamin B12, and folate. By making an important contribution to our B6 and folate intake, broccoli can help us lower our risk of excessive homocysteine formation and cardiovascular problems that are related to excess homocysteine.
Other Health Benefits Provided by Broccoli
Three other areas of health benefits are important to mention when considering broccoli and its unique combination of nutrients. The first area is eye health. Two carotenoids found in significant concentrations in broccoli-lutein and zeaxanthin-play an especially important role in the health of the eye. In fact, no tissue in the body is more concentrated with lutein than the area in the outer portion of the retina (called the peripheral retina). Similarly, in the macula near the central portion of the retina, zeaxanthin is uniquely concentrated. Risk of problems involving the macula of the eye (for example, macular degeneration) and problems involving the lens area of the eye (for example, cataracts) have both been show to lessen with intake of foods (including broccoli) that provide significant amounts of the lutein and zeaxanthin carotenonids.
A second area is skin support, including support of sun-damaged skin. Here it is the glucoraphanin found in broccoli-converted into sulforaphane by the body-that has received the most research attention. Since skin cells can carry out the process of detoxification, it may be detox-related benefits of sulforaphane that are especially important in helping to counteract sun damage.
A third area of increasing research interest involves the metabolism of vitamin D. Broccoli is not a source of this vitamin, but it is an unusually good source of vitamin K and also of vitamin A (in one of its precursor forms, beta-carotene). Many individuals have large vitamin D deficiencies that cannot be remedied through diet alone, and these deficiencies require sizable amounts of vitamin D to be provided through dietary supplementation. When large supplemental doses of vitamin D are needed to offset deficiency, ample supplies of vitamin K and vitamin A appear to help keep our vitamin D metabolism in the proper balance. Assuring adequate intake of vitamins K and A alongside of vitamin D supplementation may turn out to be important in achieving optimal vitamin D supplementation results and avoiding potential problems related to supplementation. Broccoli may turn out to play a particularly helpful role in balancing this set of events by providing its unusually strong combination of both vitamin A and vitamin K.

Sunday, September 5, 2010

SOLAT

Solat adalah suatu ibadat yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam disertai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Definisi semacam ini telah disepakati oleh para ulama ahli Fiqih di mana mereka mengatakan :

“Solat adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir, dan disudahi dengan salam yang dengannya itu kita dianggap beribadat (kepada Allah) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan”

Kedudukan dan hikmah solat

Solat di dalam agama Islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi lagi oleh ibadat/amalan apapun. Tiada sesuatu perintah ibadat lain yang lebih ditonjolkan oleh Al Qur’an melebihi perintah solat. Di dalam Al Qur’an terdapat beberapa kata yang menyatakan fardhunya solat dengan menggunakan berbgai macam gaya bahasa. Kadangkala dengan memuji orang yang mengerjakan solat dan mencela orang yang meninggalkannya, kadangkala menceritakan keadaan orang yang tidak mengerjakan solat iaitu bahawasanya mereka berada di dalam neraka, kadakala merupakan suatu berita bahawa orang yang mengerjakannya akan beruntung, kadangkala menerangkan hikmahnya iaitu bahawa solat dapat mencegah perbuatan keji; dan sebagainya. Sebagai contohnya dikutipkan beberapa ayat Al Qur’an yang berhubung dengan solat dengan menggunakan berbagai gaya bahasa:

“Peliharalah semua solat(mu), dan (peliharalah) solat wustho” ~Al Baqarah : 238

“Dan dirikanlah solat untuk mengingatiKu” ~Thoha : 14

“dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan solat dan bersabar
kamu dalam mengerjakannya” ~Thoha : 132

“Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang mensia-siakan solat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” ~Maryam : 59

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?” Mereka menjawab : “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan solat” ~Al Muddatsir : 42-43

“Dan dirikanlah olehmu akan solat dan berikanlah olehmu zakat dan ruku’lah berserta orang-orang yang ruku’” ~Al Baqarah ; 43

“Dan dirikanlah olehmu solat, Kerana sesungguhnya solat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” ~Al ‘Angkabut : 45

“Kemudian apabila kamu telah merasa aman maka dirikanlah solat. Sesungguhnya solat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” ~An Nisa : 103

“Solat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mengerjakannya bererti ia menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya (tidak mengerjakannya) bererti ia meruntuhkan agama” ~Hadis Nabi

Dan pada hadis yang lain disebutkan :
“Pokok urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya adalah solat, dan puncak keseluruhannya adalah berjuang di jalan Allah”

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahawa solat adalah tiang agama Islam maka solat itu dijadikan suatu batas yang memisahkan antara Islam dan kafir, sebagaimana sabda Nabi :
“Janji yang (mengikat) antara kami (kaum muslimin) dan antara mereka (kafirin) adalah solat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya ia benar-benar telah kafir”

Solat adalah merupakan penghubung antara hamba dengan Khaliqnya. Ia merupakan sebesar-besar tanda iman dan seagung-agung syiar agama. Ia merupakan tanda pernyataan syukur atas kasih atas nikmat-nikmat yang telah dikurniakan Allah kepada hambaNya. Ia adalah merupakan senyata-nyata ibadat yang membuktikan keIslaman seseorang.

Kerana itulah Allah membesarkan nilainya dan membesarkan pula urusannya. Ia adalah sebesar-besar dan semulia-mulia ibadat. Ia adalah ibadat yang sangat mendekatkan hamba kepada khaliqnya. Hal ini berdasarkan hadis nabi yang bererti :

Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah di kala hamba itu bersujud (di dalam solat). Maka berbanyak-banyaklah berdoa di dalam sujud itu”
Solat yang dilaksanakan dengan sempurna dan penuh kekusyukan itu dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar sebagaimana Allah telah berfirman yang ertinya :

“Sesunggunya solat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” Oleh kerananya dapat diambil kesimpulan bahawa orang yang melaksanakan solat tetapi masih melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan masih saja melakukan kemungkaran maka yang demikian itu menandakan bahawa solatnya belum/tidak sempurna. Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda :

“Barangsiapa yang solatnya tidak dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia akan bertambah jauh dari Allah”
Amal perbuatan seseorang itu ditentukan oleh solatnya. Maka dari itu janganlah kita mengerjakan solat semaunya saja tanpa mengindahkan syarat dan rukunnya. Sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

Solat adalah perbuatan mula pertma dihisab bagi seorang hamba. Apabila solatnya baik maka baiklah semua perbuatannya; dan apabila solatnya buruk maka buruklah semua perbuatannya”.

Solat lima kali sehari semalam dan solat Juma’at pada hari Juma’at itu dapat menghapus dosa-dosa orang yang melaksanakannya, selama dosa-dosa besar seperti membunuh orang, berzina itu dijauhinya. Hal ini berdasarkan hadis nabi yang bererti :

“Solat yang lima dan Juma’at yang satu sampai Juma’at yang lain adalah menjadi kafarat terhadap apa (dosa) yang dilaksanakannya di antara semuanya itu selama dosa-dosa besar tidak dilakukannya”

Dan baginda pernah bersabda :

“Apakah kamu sekelian melihat, seandainya pada pintu salah seorang di antara kamu sekalian ada sungai yang mana ia mandi daripadanya lima kali setiap hari, apakah masih ada sesuatu kotoran pada orang tersebut? Para sahabat menjawab : Tidak sedikitpuin terdapat kotoran padanya. Baginda bersabda : yang demikian itu adalah perumpamaan solat yang lima (solat fardhu) di mana Allah menghapuskan dosa-dosa genan solat-solat itu”.

Di dalam satu hadis disebutkan pula bahawa apabila seseorang selalu memelihara solatnya maka ia akan dimuliakan dengan lima kemuliaan iaitu :

1. Dihilangkan kesempitan penghidupan daripadanya
2. Dihilangkan siksa kubur daripadanya
3. Diberikan surat amalan kepadanya nanti di hari mahsyar dari sebelah kanan
4. Diberikan kesanggupan untuk melewati/melintasi jembatan (sirathal mustaqim)
dengan kecepatan kilat
5. Dimasukkan ke dalam syurga tanpa dihisab.

Hukum dan ancaman bagi orang yang meninggalkan solat

Solat adalah suatu ibadat yang mula pertama diwajibkan oleh llah dan mulai difardhukan pada malam Isra’ dan Mi’raj di mana Allah langsung memerintahkan kepada RasulNya tanpa perantaraan siapapun Kerana mengingat pentingnya solat itu dan Kerana tingginya solat itu menurut Allah.

Solat adalah merupakan tiang agama dan merupakan suatu pekerjaan yang menentukan apakah seseorang itu Islam atau kafir, Jadi, orang yang meniggalkan solat ia adalah kafir, sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. “

Antara seorang Islam dan antara kekufuran adalah meninggalkan solat”

Dan telah berkata pula Muhammada bin Nashr al Mirwazi :

Sahlah berita nabi s.a.w. bahawasanya orang yang meninggalkan solat adalah kafir. Begitu pula pendapat ahli-ahli ilmu semenjak zaman Nabi Muhammad s.a.w. bahawa orang yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa uzur sehingga habis waktunya ia adalah kafir”.

Begitu juga telah berkata Abdullah bin Syaqif Al ‘Ukeili :

Tiada suatu amalanpun yang dipandang oleh para sahabat nabi Muhammad s.a.w. yang apabila amalan itu ditinggalkan dapat menjadikan kafir kecuali solat”

Dengan demikian jelaslah bahawa orang yang meninggalkan solat adalah kafir dan mereka boleh dibunuh. Banyak hadis yang menyatakan bolehnya dibunuh orang yang meninggalkan solat, di antaranya hadis yang diterima oleh Ibnu ‘Abbas .a. di mana Rasulullah s.a.w. bersabda :

Ikatan Islam dan undang-undang agama itu ada tiga, dan di atas tiga itulah didirikan Islam. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu di antara ketiganya maka benar-benar kafir dan halal darahnya (boleh dibunuh). Tiga hal itu adalah : Bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, solat fardhu dan puasa bulan Ramadhan”

Selanjutnya orang yang meninggalkan solat itu diancam oleh Allah akan dimasukkan ke dalam neraka yang mana neraka adalah tempat segala siksaan. Allah s.w.t. berfirman di dalam surah Al Muddatsir ayat 42 dan 43 yang ertinya :

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar(Neraka)?” Mereka menjawab : “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan solat”.

Dan di dalam hadis dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. tentang ancaman Allah yang ditimpakan kepada orang-orang yang meninggalkan solat iaitu sebagai berikut :

1. Di kala mereka hidup di dunia :

a. Dihilangkan keberkatan dari hidupnya.
b. Dihilangkan tanda kesolehan dari wajahnya.
c. Tidak berpahala amal-amal perbuatannya.
d. Doanya tidak diangkat ke langit.
e. Tidak memperoleh bahagian di dalam doanya orang-orang yang soleh.

2. Di kala mereka menghembuskan nafas terakhgir dan saat-saat sesudahnya :

a. Mati dengan penuh kehinaan.
b. Mati dalam keadaan lapar.
c. Mati dalam keadaan haus.
d. Dihimpit kubur dari sebelah kiri dan kanan.
e. Dinyalakan api Neraka di dalam kubur mereka.

f. Didatangkan kepada mereka masing-masing seekor ular yang bernama “Asy
Syuja’ul Aqra’”, untuk menyiksa mereka di mana ia berkata : “Aku diperintah oleh
Allah s.w.t. untuk memukul engkau, kerana engkau mensia-siakan solat Subuh
sehingga terbit matahari, Kerana engkau mensia-siakan solat Zohor sehingga
Asar, Kerana engkau mensia-siakan Asar sehingga dating Maghrib, Kerana
engkau mensia-siakan solat Maghrin sehingga ‘Isya’ dan kerana engkau mensia-
siakan solat ‘Isya’ sehingga fajar”. Ular yang bernama Asy Syuja’ul Aqra’ itu
terus menerus menyiksa mereka sampai hari Mahsyar pergi. Menderita kesengsaraan di
kala hisab pada hari Mahsyar.

h. Mendapat kemurkaan Allah.

i. Dimasukkan ke dalam neraka.

Pada suatu riwayat yang lain diterangkan bahawa nanti pada hari kiamat wajah orang-orang yang tidak mengerjakan solat ditulis dengan tiga perkataan iaitu :

1. Hai orang yang mensia-siakan hak Allah.
2. Hai orang yang ditimpakan kebencian Allah kepadanya
3. Sebagimana engkau telah mensia-sia hak Allah di dunia maka berputus-asalah engkau
pada hari ini dari rahmat Allah.

Demikian ancaman Allah terhadap hamba-hambaNya yang melalaikan kewajiban utamanya yakni solat lima kali sehari semalam. Oleh Kerana itu hendaklah masalah solat ini mendapat perhatian yang serius, jangan sampai kita kaum muslimin meninggalkannya bila masa saja dan di mana saja agar kita selamat dari azab Allah yang sangat pedih.


ihsan: Portal Komuniti :: Ukhwah.com

Monday, August 23, 2010

RABI’ATUL ADAWIYAH

Saya kagum dengan kisah-kisah Rabi’atul Adawiyah, seorang wanita yang tabah, ta’at kepada Allah dan kuat beribadat. saya telah mengumpul beberapa ceritanya, sama-sama kita berkongsi dan menghayatinya, moga dirahmati Allah.

Rabi’ah adalah salah satu tokoh sufi wanita pada zamannya, beliau dilahirkan di kota Basrah tahun 95 hijriyah,dan putri ke 4 dari seorang lelaki bernama,Ismail Adawiyah. Beliau hidup dalam kemiskinan dan lingkungan yang serba kurang bahkan ketika Rabi’ah lahir lampu untuk menerangi saat kelahirannyapun tidak ada. Rabi’ah yang lahir dalam keadaan miskin tapi kaya akan iman dan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya seorang yang bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Pada akhir kurun pertama Hijrah,keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Sebab itu kejahatan dan maksiat tersebar luas.

Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali. Namun begitu, Allah telah memelihara sebahagian kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Basri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat. Ayahanda Rabi’ah merupakan hamba yang sangat taat dan taqwa,hidup jauh dari kemewahan dunia dan tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Beliau mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berhasil menghafal kandungan al-Quran.

Sejak kecil Rabi’ah sudah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam. Memasuki masa kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit dan semakin sulit setelah beliau ditinggal ayah dan ibunya,dipanggil Allah. Dan ujian2 lain yang menguji keteguhan imannya,sampai dia sanggup,untuk menjadi hamba sahaya dari seorang kaya raya pada zaman itu dan ini terjadi karena penderitaan kemiskinan yang dideritanya. Cubaan demi cubaan dilalui Rabi’ah dalam menjalani hidupnya yang sarat akan penderitaan dan karena beliau pintar memainkan alat musik, maka majikannya semakin menjadikannya sumber mencari wang dengan kebolehan yang dimiliki Rabi’atul.

Dalam keadaan hidup yang keras dan serba terkekang sebagai hamba sahaya,membuat Rabi’ah mendekatkan diri kepada Allah dan selalu mengisikan waktunya yang terluang untuk terus bermohon kepada Allah, baik pagi maupun petang, malam dan siang. Amalannya tidak hanya terbatas berdoa saja tapi sepanjang hari dan sepanjang ada waktu dia senantiasa berzikir, berdoa dan melaksanakan amalan-amalan sunat lainnya. Ketika beliau melakukan solat, kerapkali airmatanya membasahi sejadahnya, air mata kerinduan kepada Allah al-Khaliq yang di rinduinya. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam dunia maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan dasar keimanan yang kuat dan belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Saat2 taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorongkan hatinya bagaimana merasai cara berkomunikasi yang baik antara seorang hamba Rabi’atul dengan Allah AWT . Selayaknya seorang hamba bergantung harapan kepada belas ihsan Tuhannya.

Kecintaan Rabi’ah kepada Allah mengalahkan hidup dan kecintaannya kepada dunia dan isinya, hari-harinya dihabiskan untuk berkomunikasi dengan Allah betapa dia merasa dirinya adalah milik Allah hingga ada beberapa pemuda ingin melamar dirinya di tolak dengan baik. Beliau selalu berbicara dengan Allah; seolah-olah dekat sekali dengan Nya. Beliau kerap mengguna bahasa indah, doa-doa yang sangat menusuk hati serta kata-kata pujian seperti layaknya kerinduan seseorang kepada kekasih hatinya. Salah satu kata-kata Rabi’atul ketika bermunajat sambil air matanya mengalir.

”Kekasihku,
Tidak menyamai kekasih lain
Dan tiada yang lain selain Engkau.
Di lubuk hatiku
Engkau mempunyai tempat di segala sudut.
Sekali pun Engkau tiada dipenglihatanku dan diperibadiku,
Namun, Engku tidak pernah hilang walau sedetik pun di hatiku.”

Rabi’ah banyak menolak lamaran yang datang kepadanya dengan inilah alasannya: “Perkawinan itu memang perlu bagi siapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.” Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata- mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredhaan Allah. Rabi’ah telah mematikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat sepenuhnya.

Selama 30 tahun selalu doa ini yang senantiasa di ulang-ulang ketika dalam solatnya “Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”

Rabi’ah sangat luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulaikan pemahamannya tentang sufinya dengan menanamkan rasa takut dari murka Allah seperti yang pernah ungkapkannya dalam doa-doanya

“Wahai Tuhanku!
Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabi’ah kepada Allah bukan karena pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata,tapi sudah menjadi kewajiban baginya.

“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana mengharap syurgaMu maka jauhkan aku dari syurgaMu ! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada- Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meridhanya, amin.

Untuk itu mari kita merenung adakah kita sadar akan sebuah hakikat yang ada di sebut dalam surat al Imran ayat 142” Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila orang yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada orang tesrbut? Tidakkah terfikir oleh kita untuk merasakan dalam hati dan berdoa:

“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu saja yang kekal. Selamatkanlah aku dari tipu daya yang mengasyikkan.”

Sesungguhnya hendaklah kecintaan kepada Allah benar-benar dapat kita tanamkan kepada diri kita bukan hanya sekedar solat dan puasa atau ibadah ritual lainnya tapi yakin kan diri semakin kita mengenal Allah dengan dekat maka semakin ingin kita bertemu dan akan ada kerinduan untuk bertemu al-Khaliq.

Ibubapa Rabia'atul-adawiyah adalah orang miskin. Hinggakan dalam rumah mereka tidak ada minyak untuk memasang lampu dan tidak ada kain untuk membalut badan beliau. Beliau ialah anak yang keempat. Ibunya menyuruh ayahnya meminjam minyak dari jiran. tetapi bapa beliau telah membuat keputusan tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali kepada Allah. Bapa itu pun pergilah berpura-pura ke rumah jiran dan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu agar tidak didengar oleh orang dalam rumah itu. Kemudian dia pun pulang dengan tangan kosong. Katanya orang dalam rumah itu tidak mahu membuka pintu. Pada malam itu si bapa bermimpi yang ia bertemu dengan Nabi. Nabi berkata kepadanya, "Anak perempuanmu yang baru lahir itu adalah seorang yang dikasihi Allah dan akan memimpin banyak orang Islam ke jalan yang benar. Kamu hendaklah pergi berjumpa amir Basrah dan beri dia sepucuk surat yang bertulis - kamu hendaklah berselawat kepada Nabi seratus kali tiap-tiap malam dan empat ratus kali tiap-tiap malam Jumaat. Tetapi oleh kerana kamu tidak mematuhi peraturan pada hari Khamis sudah, maka sebagai dendanya kamu hendaklah membayar kepada pembawa surat ini empat ratus dinar."

Bapa Rabi'atul-adawiyyah pun terus jaga dari tidur dan pergi berjumpa dengan amir tersebut, dengan air mata kesukaan mengalir di pipinya. Amir sungguh berasa gembira membaca surat itu dan faham bahawa beliau ada dalam perhatian Nabi. Amir pun memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar dan dengan gembira memberi bapa Rabi'ah sebanyak empat ratus dinar. Amir itu meminta supaya bapa Rabi'atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu kerana beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi'ah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. Ketua penyamun itu menangkap Rabi'ah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.

Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau redha denganku. tetapi nyatakanlah keredhaanMu itu padaku." Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, "Tak mengapa semua penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu." Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari.

Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi'atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : "Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia."

Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang bercahaya terang tergantung di awang-awangan dalam bilik Rabi'atul-adawiyyah. Cahayanya meliputi seluruh bilik Rabi’ah. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya dan sebaliknya tuan itu pula ingin menjadi khadam kepada Rabi'atul-adawiyyah.

Esoknya, Rabi'atul-adawiyyah dipanggil oleh tuannya. Keputusan tuannya hendak menjadi khadam itu diluahkannya. Rabi'atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi'atul-adawiyyah berkata bahawa beliau ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi'atul-adawiyyah terus pergi dari tempat itu.

Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua. Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau di tinggal seorang diri di situ. Rabi'atul-adawiyyah terus berdoa, "Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka'abah dan sekarang Engkau matikan keldaiku dan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan.
" Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka'abah, beliau pun duduk dan berdoa, "Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka'abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan." Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam." Suatu ketika yang lain, semasa Rabi'atul-adawiyyah menuju Ka'abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka'abah datang mempelawanya. Melihatkan itu, beliau berkata, "Apa hendakku buat dengan Ka'abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka'abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka'abah, aku mahu Allah."

Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka'abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu.

Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka'bah. Apabila sampai didapatinya Ka'abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, "Ka'abah itu telah pergi melawat Rabi'atul -adawiyyah." Apabila Ka'bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi'atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata "Rabi'atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka'abah mengambil masa empat belas tahun." Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk."

Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi'atul-adawiyyah pergi ke Ka'abah. beliau berdoa, "Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku." Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, "Rabi'atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu." Terdengar lagi suara berkata, "Kamu tidak sesuai dengan itu. Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk
mencapai Aku.

Rabi'atul-adawiyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku." Kemudian suara itu menyuruh Rabi'atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, "Rabi'atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami. Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini." Mendengar itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka'abah." Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.

Suatu hari Rabi'atul-adawiyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi'atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi'atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi'atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi'atul-adawiyyah, Rabi'atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, "Lapan belas." Rabi'atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi'atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi'atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : "Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan."

Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, "Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?" Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah."

Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi'atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, "Kenapa binatang itu lari?" Sebagai jawapan, Rabi'atul-adawiyyah bertanya, "Apa kamu makan hari ini?" Hassan menjawab, "Daging." Rabi'atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering."

Suatu hari Rabi'atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya." Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti.

Suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi'atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia' Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi'atul-adawiyyah dan berkata, "Rabi'atul-adawiyyah, marilah kita meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana." Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia' Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?" Rabi'atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah." Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, "Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku."

Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah." Beliau ditanya, "Dari mana kamu datang?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah." Rabi'atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan."

Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu? Rabi'atul-adawiyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."

Rabi'atul-adawiyah sentiasa menangis kerana Allah. Orang bertanya kepadanya sebab beliau menangis. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku takut berpisah walau sedetik pun dengan Tuhan dan tidak boleh hidup tanpa Dia. Aku takut Tuhan akan berkata kepadaku tatkala menghembuskan nafas terakhir - jauhkan dia dariKu kerana dia tidak layak berada di majlisKu."

Allah suka dengan hambaNya yang bersyukur apabila ia berusaha sepertimana ia bersyukur tatkala menerima kurniaNya (iaitu ia menyedari yang ia tidak sanggup berusaha untuk Allah tanpa pertolongan dan kurniaan Allah).

Seorang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah Allah menerima taubat orang yang membuat dosa?"

Rabi'atul-adawiyah menjawab, "Itu hanya apabila Allah mengurniakan kuasaNya kepada pembuat dosa itu yang ia digesa untuk mengakui dosanya dan ingin bertaubat. Hanya dengan itu Allah akan menerima taubatnya kerana dosa yang telah dilakukannya." Salih Al-Qazwini selalu mengajar muridnya, "Siapa yang selalu mengetuk pintu rumah seseorang akhirnya satu hari pintu itu pasti akan dibuka untuknya." Satu hari Rabi'atul-adawiyah mendengar beliau bercakap demikian. Rabi'atul-adawiyah pun berkata kepada Salih, "Berapa lama kamu hendak berkata demikian menggunakan perkataan untuk masa depan (Future) iaitu "Akan dibuka"? Adakah pintu itu pernah ditutup? Pintu itu sentiasa terbuka." Salih mengakui kebenarannya itu.

Seorang hamba Allah berteriak, "Aduh sakitnya!" Rabi'atul-adawiyah bertemu dengan orang itu dan berkata, "Oh! bukannya sakit." Orang itu bertanya kenapa beliau berkata begitu. Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kerana sakit itu adalah satu nikmat bagi orang yang sangat mulia di sisi Allah. Mereka merasa seronok menanggung sakit itu."

Suatu hari Rabi'atul-adawiyah sedang melihat orang sedang berjalan dengan kepalanya berbalut. Beliau bertanya kenapa kepalanya dibalut. Orang itu menjawab mengatakan ia sakit kepala. Rabi'atul-adawiyah bertanya, "Berapa umurmu?" Jawab orang itu, "Tiga puluh." Rabi'atul-adawiyah bertanya lagi, "Hingga hari ini begaimana keadaanmu?" Kata orang itu, "Sihat-sihat sahaja." Rabi'atul-adawiyah pula berkata, "Selama tiga puluh tahun Allah menyihatkan kamu, tetapi kamu tidak mengibarkan bendera pada badanmu untuk menunjukkan kesyukuran kepada Allah, dan agar manusia bertanya kenapa kamu gembira sekali dan setelah mengetahui kurniaan Tuhan kepadamu, mereka akan memuji Allah. Sebaliknya kamu, setelah mendapat sakit sedikit, membalut kepalamu dan pergi ke sana ke mari menunjukkan sakitmu dan kekasaran Tuhan terhadapmu. Kenapa kamu berlaku sehina itu!"

Suatu hari khadamnya berkata, "Puan, keluarlah dan mari kita melihat keindahan kejadian Tuhan di musim bunga ini.' Rabi'atul-adawiyah menjawab, "Duduklah dalam rumah seperti aku berseorangan dan melihat yang menjadikan. Aku lihat Dia dan bukan kejadianNya."

Suatu hari, orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyah kenapa beliau tidak menyimpan pisau dalam rumahnya. Beliau menjawab, "Memotong itu adalah kerja pisau. Aku takut pisau itu akan memotong pertalian aku dengan Allah yang ku cintai."

Suatu masa Rabi'atul-adawiyyah berpuasa selama lapan hari. Pada hari terakhir, beliau merasa lapar sedikit. Datang seorang hamba Allah membawa minuman yang manis dalam sebuah cawan. Rabi'atul-adawiyyah ambil minuman itu dan meletakkannya di atas lantai di satu penjuru rumahnya itu. Beliau pun pergi hendak memasang lampu. Datang seekor kucing lalu menumpahkan minuman dalam cawan itu. Melihat itu, terfikirlah Rabi'atul-adawiyyah hendak minum air sahaja malam itu. Tatkala ia hendak mencari bekas air (tempayan), lampu pun padam. Bekas air itu jatuh dan pecah airnya bertaburan di atas lantai. Rabi'atul-adawiyah mengeluh sambil berkata, "Tuhanku! Kenapa Kau lakukan begini kepadaku?"

Terdengar suara berkata, "Rabi'atul-adawiyah, jika kamu hendakkan kurnia dunia, Aku boleh berikan padamu, tetapi akan menarik balik darimu siksaan dan kesakitan yang Aku beri padamu. Kurnia dunia dan siksaan Aku tidak boleh duduk bersama-sama dalam satu hati. Rabi'atul-adawiyyah, kamu hendak satu perkara dan Aku hendak satu perkara lain. Dua kehendak yang berlainan tidak boleh duduk bersama dalam satu hati."

Dengan serta-merta beliau pun membuangkan kehendak kepada keperluan hidup ini, seperti orang yang telah tidak berkehendakkan lagi perkara-perkara dunia ini semasa nyawa hendak bercerai dengan badan.


Tiap-tiap pagi beliau berdoa, "Tuhan! Penuhilah masaku dengan menyembah dan mengingatMu agar orang lain tidak mengajakku dengan kerja-kerja lain."

Rabi'atul-adawiyyah ditanya, "Kenapa kamu sentiasa menangis-nangis?"

Beliau menjawab, "Kerana ubat penyakit ini ialah berdampingan dengan Tuhan."

"Kenapa kamu memakai pakainan koyak dan kotor?" Beliau ditanya lagi, "Kamu ada kawan yang kaya, dan dia boleh memberimu pakaian baru." Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Aku berasa malu meminta perkara dunia dari sesiapa pun yang bukan milik mereka kerana perkara-perkara itu adalah amanah Allah kepada mereka dan Allah jua yang memiliki segala- galanya."

Orang berkata, "Rabi'atul-adawiyah, Tuhan mengurniakan ilmu dan kenabian kepada lelaki, dan tidak pernah kepada perempuan, tentu kamu tidak dapat mencapai pangkat kewalian yang tinggi itu (kerana perempuan). Oleh itu apakah faedahnya usaha kamu menuju ke taraf tersebut?"

Rabi'atul-adawiyah menjawab, "Apa yang kamu kata itu benar, tetapi cubalah katakan kepadaku siapakah perempuannya yang telah mencapai taraf kehampiran dengan Allah dan lalu berkata,"Akulah yang hak".

Di samping itu tidak ada orang bagii yang perempuan. Hanya didapati dalam kaum lelaki sahaja." Rabi'atul-adawiyah berkata, "Seorang perempuan yang sentiasa bersembahyang kerana Allah adalah lelaki dan bukan perempuan."

Satu hari Rabi'atul-adawiyah jatuh sakit. Orang bertanya kepadanya sebab ia sakit. Beliau berkata, "Hatiku cenderung hendak mencapai Syurga, sayu hari yang lampau. Kerana itu, Allah jatuhkan sakitini sementara sebagai hukuman."

Hassan Al-Basri datang berjumpa Rabi'atul-adawiyah yang sedang sakit. Di pintu rumah beliau itu, Hassan bertemu dengan Amir Al-Basri yang sedang duduk dengan sebuah bag mengandungi wang. Amir itu menangis. Apabila ditanya kenapa beliau menangis, beliau menjawab, "Aku hendak menghadiahkan wang kepada Rabi'atul-adawiyah, tetapi aku tahu dia tidak akan menerimanya.Kerana itulah aku menangis. Bolehkah kamu menjadi pengantara dan meminta dia menerima hadiahku ini?" Hassan pun pergilah membawa wang itu kepada Rabi'atul-adawiyah dan meminta beliau menerima wang itu. Tetapi Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Oleh kerana aku telah kenal Allah, maka aku tidak lagi mahu bersembang dengan manusia dan tidak menerima hadiah dari mereka dan juga tidak mahu memberi apa-apa kepada mereka. Di samping itu aku tidak mahu sama ada wang itu didapatinya secara halal atau haram."

Sufyan Al-Thauri berkata, "Kenapa kamu tidak memohon kepada Allah untuk menyembuhkan kamu?" Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Kenapa aku merungut pula kerana itu hadiah Allah bagiku. Bukankah salah jika tidak mahu menerima hadiah Tuhan? Adakah bersahabat namanya jika kehendak sahabat itu tidak kita turuti?"

Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-adawiyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur. Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian." Rabi'atul-adawiyah menjawab, "Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik
untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu."

Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Orang yang cinta kepada Allah itu hilang dalam melihat Allah hingga kesedaran kepada yang lain lenyap darinya dan Dia tidak boleh membezakan mana sakit dan mana senang."

Seorang Wali Allah datang dan merungut tentang dunia. Rabi'atul-adawiyah berkata, "Nampaknya kamu sangat cinta kepada dunia, kerana orang yang bercakap tentang sesuatu perkara itu tentulah dia cenderung kepada perkara tersebut."

Satu hari, Sufyan Al-Thauri pergi berjumpa Rabi'atul-adawiyyah. Rabi'atul-adawiyah menghabiskan masa malam itu dengan sembahyang. Apabila sampai pagi, beliau berkata, "Pujian bagi Allah yang telah memberkati kita dapat sembahyang sepanjang malam. Untuk tanda kesyukuran, marilah kita puasa pula sepanjang hari ini." Rabi'atul-adawiyyah selalu berdoa demikian, "Tuhanku! Apa sahaja yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan dunia, berikanlah kepada musuhku dan apa sahaja kebaikan yang Engkau hendak kurnia kepadaku berkenaan akhirat, berikanlah kepada orang-orang yang berIman, kerana aku hanya hendakkan Engkau kerana Engkau. Biarlah aku tidak dapat Syurga atau Neraka. Aku hendak pandangan Engkau padaku sahaja."

Sufyan Al-Thauri menghabiskan masa sepanjang malam bercakap-cakap tentang ibadat kepada Allah dengan Rabi'atul-adawiyyah. Di pagi hari Al-Thauri berkata, "Kita telah menghabiskan masa malam tadi dengan sebaik-baiknya." Rabi'atul-adawiyah berkata, "Tidak, kita habiskan masa dengan sia-sia kerana sepanjang percakapan itu kamu berkata perkara-perkara yang memuaskan hatiku sahaja dan aku pula memikirkan perkara yang kamu sukai pula. Masa itu kita buang tanpa mengenang Allah. Adalah lebih baik jika aku duduk seorang diri dan menghabiskan masa malam itu dengan mengenang Allah." Rabi'atul-adawiyyah berkata, "Doaku padaMu ialah sepanjang hayatku berilah aku dapat mengingatMu dan apabila mati kelak berilah aku dapat memandangMu."

Lahirnya padakurun kedua hijrah
Dipinggiran terpencil Kota Basrah
Sejarah telah menukirkan langkahnya
Menuju Allah bermula dengan payah
Kemiskinan keluarganya terlalu mencengkam
Menjadikn dia hampir tenggelam
Dialah gadis yang bernama Rabiatul Adawiyah
Takdir mengatasi takdir
Ketika tiba-tiba pintu hidayah terbuka dia menjadi tersentak

Kembara cintanya pun bermula
Dari gelap dia menuju cahaya
Bukan kerana pahala tetapi kerana cinta
di kedinginan malam dia berkata
Tuhanku bintang-bintang telah menjelma indah
Mata manusia terlena sudah
Ketika semua pintu telah tertutup
Tatkala unggas malam sahut menyahut
Dan inilah aku..inilah aku
Duduk dihadapanMu mengadu cintaku
Yang selalu terganggu
Mengintai kasihMu diperdu rindu

Demikian rintihan hati Rabiatul Adawiyah
Lalu ditemuinya keindahan & ketenangan
Di hamparan kasih sayang Tuhan


Ya Allah...Ini air mataku yang tumpah kerana menyesali dosa
Ini sujudku yang menginsafi rasa kehambaan diri
Ini tanganku yang memohon keampunan dan rahmat-Mu

Ini wajahku yang menghadap -Mu dengan rasa kehinaan
air mataku, sujudku , tanganku dan wajahku
ini sebagai saksi diakhirat........Bahawa aku pernah
merintih keampunan daripada-Mu
Jadikanlah air mataku , sujudku ,tanganku , dan
wajahku ini sebagai pemayung ketika panas terik
di Padang Mahsyar...Sesungguhnya tidak tertanggung olehku
akannya.Jadikanlah air mataku , sujudku , tanganku ,
dan wajahku ini sebagai
pemberat ketika amalanku ditimbang. Sesungguhnya
terlalu gentar hati ini apabila
air mataku sujudku , tanganku , dan wajahku
ini sebagai
penyelamat ketika dihumban ke dalam neraka-Mu......
Sesungguhnya tiada amalanku yang layak untuk
menyelamatkan diri.

Tuhan.........Tiada amalanku yang dapat dipersembahkan sempurna
kepada-mu...kerana kebaikanku telah ditembusi
kejahatanku.Melainkan hanya ini yang yang
harapan......air mata penyesalan ,sujud seorang hamba,
tangan yang sentiasa mengharap rahmat-Mu
dan wajahyang malu memandang-Mu.

Meskipun rayuan setinggi gunung,namun......kesangsian
datang di celah harapan.
Apakah air mata yang mengalir seikhlas air mata
penyesalan Nabi Adam
selamai 200 tahun
hingga bumi terbelah menjadi sungai ?
Apakah sujudku ini sehebat Uwais Al Qarni yang
merintih hingga dini hari ?
Apakah tanganku ini menadah serta bermohon
tangan Siti Mariam yang merayu ke hadrat Illahi ?
Apakah wajahku yang mengadap-Mu ini seperti Rabiatul Adawiyah
yang mengadap-Mu dengan rasa kehinaan?
Semua kesangsian ini

Ya Allah, mendatangkan kegentaran di dada untuk mengadap-Mu....
Tetapi .....hanya ini yang ada padaku..Nama ini sinonim dalam sejarah dunia .
Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah terkenal dalam sejarah Islam.
Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah
di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Aku tertarik dan ingin berkongsi rintihan Rabi'ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

"Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada
segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada
segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!

"Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur
nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di
hadapan-Mu.

"Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran
pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan
burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada
tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan
melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan
menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.

"Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik
maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi'ah yang banyak kesalahan di
hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya
yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat
kepada-Mu."

Dan ini raungan Rabiah memohon belas ihsan Allah SWT:

"Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian
kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang
mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan.
Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang
terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang
berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab
Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa."

Setiap malam begitulah keadaan Rabi'ah. Apabila fajar menyinsing,
Rabi'ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

"Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti.
Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya
aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan
takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau
menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika
Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak
bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu."

Seperkara menarik tentang diri Rabi'ah ialah dia menolak lamaran untuk
berkahwin dengan alasan:

"Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan.
Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik
Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun."

Rabi'ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu
dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai
tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi'ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

"Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada
suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu."

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

"Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain
Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada
penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah
ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun."

Rabi'ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai
Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk
membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah diluahkannya:

"Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang
mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut
kepada-Mu?"

Kecintaan Rabi'ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk
beroleh syurga Allah semata-mata.

"Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka
bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak
kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku
menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan
yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha
Mulia itu."

Begitulah keadaan kehidupan Rabi'ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji
dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi'ah meninggal dunia
pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga
Allah meredainya, amin! – Haluan

Bersama ahli cerdik pandai

Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam.
Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan
golongan cerdik pandai kerana beliau tidak pernah kehabisan hujjah.

Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke
rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk menguji beliau dengan pelbagai persoalan. Malah mereka
telah bersedia dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh
keyakinan yang tinggi, kerana selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak
pernah ketandusan hujah.

"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi
telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada
kaum wanita." Ketua rombongan itu memulakan bicara.

"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.

"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada
kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum
lelaki. Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah
diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan
lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.

"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat
bahawa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang
mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwa
dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata : "Bukankah aku ni
tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah
mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.

Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan
seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah
semuanya ditimpakan kepada kaum lelaki."

Dengan seorang pencuri

Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang khusyuk tidur,
seorang pencuri telah menceroboh masuk ke dalam pondok Rabi'atul
Adawiyah.

Namun setelah menyelongkar sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui
sebarang benda berharga kecuali sebuah kendi untuk kegunaan berwuduk,
itupun telah buruk. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari
pondok tersebut.

Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan
keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri
tersebut terperanjat kerana dia menyangka tiada penghuni di pondok
tersebut. Dia juga berasa hairan kerana baru kini dia menemui tuan
rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya
tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri
memasuki rumahnya, namun lain pula yang berlaku.

"Sila ambil sesuatu." kata Rabiatul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.

"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil daripada rumah mu ini." kata si
pencuri berterus-terang.

"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi
yang buruk tadi.

"Ini hanyalah sebuah kendi buruk yang tidak berharga." Jawab si pencuri.

"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu'
menggunakan kendi itu. Selepas itu solatlah 2 rakaat. Dengan demikian,
engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok
burukku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.

Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang
selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata
Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mencapai kendi buruk itu dan
dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.. Kemudian dia
menunaikan solat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan
kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.

Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah
menceroboh masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebarang
benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri
dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halang dia daripada
memperolehi nikmat dan rahmat-Mu."

Dengan seorang pemuda

Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah terlihat seseorang sedang
berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil menagih simpati
daripada orang ramai. Kerana ingin tahu sebabnya orang itu berbuat
demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa
engkau membalut kepalamu sebegini rupa?"

"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan ringkas.

"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.

"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.

Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi,"Berapa usiamu sekarang?"

Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"

"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.

"Alhamdulillah, sihat-sihat saja." Jawabnya.

"Apakah kamu memasang sebarang tanda di badanmu bahawa kamu sihat
selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.

"Tidak." Jawab orang itu ragu-ragu.

"Masya Allah, selama 30 tahun Allah telah menyihatkan tubuh badanmu,
tetapi kamu langsung tidak memasang sebarang tanda bagi menunjukkan
kamu sihat sebagai tanda bersyukur kepada Allah. Jika sebaliknya,
pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira.
Apabila mereka mengetahui nikmat Allah kepadamu, diharapkan mereka
akan bersyukur dan memuji Allah." Jelas Rabi'atul Adawiyah.

"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut
kepalamu dan kemudian pergi ke sana sini bagi menunjukkan sakitmu dan
kekasaran Allah terhadapmu kepada orang ramai, Mengapa kamu berbuat
hina seperti itu?" Sambung Rabi'atul Adawiyah lagi.

Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan
tertunduk malu denga perlakuannya. Kemudian dia beredar meninggalkan
Rabi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.

Kata kata mutiara rabiatul adawiyah

" Biar waktu yang akan membuktikan .......
bahwa tiap langkah yang telah dipijakkan,
tiap titisan darah dan keringat yang telah dialirkan,
tiap jiwa yang telah melayang,
akan samapai pada satu keadaan .......
dimana keadilan adalah nadinya,
kesejahteraan adalah nafasnya,
kebijaksanaan adalah sifatnya,
dan Ridho Sang Khalik adalah tujuannya. "

" Tuhanku, apa-apa saja yang hendak Kau berikan kepadaku di dunia ini
maka berikanlah kepada musuh-musuh MU.
Serta apa-apa saja yang hendak Kau berikan kepada ku di akhirat kelak,
maka berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu.
Sebab Engkau saja cukuplah bagiku "


Petikan daripada berbagai sumber berkaitan